Kamis, 13 April 2017

Penerapan IT Service Management Pada IT Infrastructure Library


Aplikasi Service Desk PT. Matahari Putra Prima



Aplikasi Service Desk pada PT. Matahari Putra Prima yang bernama Matahari Helpdesk System atau disingkat dengan nama MHS memiliki fungsi sebagai aplikasi Helpdesk untuk penanganan insiden yang ada.



Proses Kerja IT Service Desk PT. Matahari Putra Prima



Proses yang terjadi dalam Service Desk dapat dijelaskan dalam langkah-langkah sebagai berikut: (1) Kasus diterima dan dicatat oleh Service Desk. Beberapa mekanisme penerimaan kasus dari klien antara lain: kontak personal, e-mail, dan telepon. Kemudian pencatatan dapat dilakukan oleh hanya staf Service Desk, semua staf dalam organisasi atau klien; (2) Identifikasi dan analisis kasus, serta usulan-usulan pemecahan masalah; (3) Identifikasi klien, lingkungan pekerjaan, gejala-gejala dari kasus; (4) Melakukan usaha-usaha pencarian solusi; (5) Membuat perintah kerja, dan meneruskannya kepada orang yang memiliki keahlian untuk memecahkannya; (6) Melakukan umpan balik kepada pelanggan (user) untuk memastikan masalahnya telah diselesaikan secara tuntas; (7) Menutup kasus / perintah kerja.



Tahap Measure



Goal  Question Metrics (GQM) terhadap Insiden



Metode Goal Question Metrics (GQM) bertujuan membuat suatu standar ukuran berdasarkan ITSM yang berguna untuk mengetahui hal-hal apa saja yang akan menjadi prioritas ataupun permasalahan yang utama pada IT Service Desk PT. Matahari Putra Prima berdasarkan data-data yang telah didapat. Goal Question Metrics yang digunakan berdasarkan ITSM Metrics pada sistem manajemen layanan IT  yaitu pada Incident Management dan Service Desk Management. 



Pada insiden terdapat prioritas metrics yang diangap penting yaitu insiden yang langsung ditugaskan dengan benar. Metrik ini bertujuan untuk melihat seberapa tepatnya penanganan oleh staff Service Desk PT. Matahari Putra Prima, di dalam menangani insiden yang ada. Dari prioritas tersebut penulis menganalisis seberapa tepat penanganan oleh staff Service Desk PT. Matahari Putra Prima dengan menggunakan Histogram, tujuan penggunaan histogram ini untuk melihat variasi data yang terjadi pada tiap bulannya. Data Histogram ini diambil pada bulan April sampai dengan Juni. Dari data Histogram tersebut bahwa total insiden terjadi pada bulan April sampai Juni yang tiket insiden yang telah dibuat sebesar 552. Insiden pada bulan April sebesar 179, jumlah insiden yang ditugaskan dengan benar sebesar 147 insiden, jadi tingkat kesalahan penugasan sebanyak 32 insiden pada bulan April. Pada bulan Mei insiden yang terjadi sebesar 178, insiden yang ditugaskan dengan benar 151, jadi tingkat kesalahan pada bulan Mei sebanyak 27 insiden. Sedangkan untuk bulan Juni insiden berjumlah 195, insiden yang ditugaskan dengan benar sebesar 154, tingkat kesalahan sebanyak 41 insiden. Dari Histogram ini dapat disimpulkan bahwa dalam penanganan pengiriman penugasan



kepada Support Group masih terjadi kesalahan, dan akibat ini dapat menyebabkan keterlambatan penanganan terhadap insiden.



Goal  Question Metrics (GQM) terhadap Service Desk



Prioritas tertinggi terhadap GQM Service Desk didapat pada metrics insiden yang tidak melalui first-line support, insiden yang langsung dapat diselesaikan dan respon terhadap insiden yang melebihi SLA. Dari ketiga metrics tersebut dianalisis Histogram.

                 

Pada Histogram menunjukkan bahwa banyaknya tiket insiden yang dibuat tidak melalui 1st line support. Pada bulan April sebesar 73 insiden, Mei sebesar 76 insiden dan untuk bulan Juni sebesar 66 insiden. Sedangkan insiden yang melalui 1st line support sebesar 106 pada bulan April, 102 pada bulan Mei dan 129 pada bulan Juni. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa kurangnya berfungsinya Service Desk PT. Matahari Putra Prima, sehingga masih terdapatnya pengiriman penugasan insiden ke Support Group bukan dari 1st line support melainkan berasal dari Management Support.



Bahwa insiden yang dapat langsung diselesaikan oleh sistem Service Desk pada bulan April jumlahnya sebesar 34 insiden yang langsung diselesaikan, Mei sebesar 29 dan Juni sebesar 47 insiden. Dari data tersebut bahwa hanya sebagian kecil insiden yang dapat langsung diselesaikan, diakibatkan karena keterbatasan staff Service Desk terhadap pengetahuan akan IT dalam bagaimana mengatasi permasalahannya sehingga kurang banyak membantu dalam penyelesaian pada tahapan awal-nya. Dan  permasalahan ini disebabkan karena terdapatnya peran Management Support di dalam menangani insiden, sehingga  insiden yang didapat langsung diteruskan kepada Support Group, yang mengakibatkan kurang terjadinya penanganan awal.



Histogram menunjukkan bahwa respon terhadap insiden yang melebihi SLA. Pada bulan April terdapat 16 insiden yang melebihi waktu respon SLA, pada bulan Mei sebesar 23 insiden, dan sedangkan pada bulan Juni sebesar 10 insiden yang melebihi waktu respon SLA. Dari data tersebut masih terlihatnya respon terhadap insiden yang melebihi SLA, yang mengakibatkan waktu penangan insiden dapat terlambat dalam waktu penanganannya. 



Tahap Analysis



Berdasarkan analisis dan data yang didapat pada Service Desk PT. Matahari Putra Prima, terlihat ada beberapa kendala yang menyebabkan terjadinya permasalahan pada penerapan Service Desk dalam beberapa aspek berikut.



Proses



Kendala pada proses keterlambatan penanganan insiden ini dikarenakan oleh kesalahankesalahan dalam pengiriman penugasan sebagai akibat dari fungsi Service Desk yang tidak sesuai dengan standarisasi ITIL, dimana seharusnya Service Desk yang merupakan sebagai contact utama kepada user ini tidak dapat terlaksana dengan baik. Sehingga, masih adanya penanganan awal insiden yang tidak melalui Service Desk melainkan melalui Management Support, dimana Management Support dapat mengirimkan penugasan kepada Support Group. Dengan dapatnya Management Support melakukan fungsi tersebut, sering terjadi kesalahan pengiriman penugasan kepada Support Group yang disebabkan karena kurang ketelitian dalam menganalisis permasalahan insiden, yang semestinya tugas ini dilakukan oleh Service Desk.



Perbaikan awalnya dapat dilakukan pada proses kerja IT Service Desk. Proses kerja yang penulis buat mengadopsi alur proses Service Management dalam ITIL dan disesuaikan dengan kondisi organisasi. Tujuan perbaikan ini untuk mengurangi terjadinya kesalahan pengiriman penugasan yang sering disebabkan oleh management support dan untuk menjadikan Service Desk sebagai contact utama terhadap penanganan insiden.

Proses kerja Service Desk baru tersebut dapat dijelaskan, sebagai berikut: (1) User memberitahukan insiden hanya kepada Service Desk sebagai contact utama yang dapat dihubungi baik secara membuat tiket, email, maupun dengan menggunakan telepon; (2) Service Desk sebagai contact center utama kepada user menerima insiden dari user. Kemudian insiden tersebut akan dibuatkan tiketnya (jika belum ada tiketnya), selanjutnya tiket tersebut akan dianalisis sebelumnya dan kemudian diteruskan ke level berikutnya yaitu Support Group yang disesuaikan dengan Group dan permasalahan yang telah dilaporkan, dan apabila permasalahan tersebut dapat diselesaikan oleh Service Desk, tiket tersebut akan di-close dengan konfirmasi kepada user sebelumnya. Tiket insiden hanya dapat di-close oleh Service Desk; (3) Support Group hanya menerima tiket insiden hanya dari Service Desk. Setelah menerima tiket yang telah didistribusikan ke grup yang bersangkutan, anggota grup akan melakukan eskalasi kepada user ataupun langsung eskalasi ke sistem maupun perangkat IT. Setelah masalahnya selesai tiket tersebut akan di-resolve dan user akan mendapatkan laporan dari Service Desk untuk mengecek hasil dari penyelesaiannya. Apabila sudah sesuai dengan apa yang diinginkan oleh user, tiket tersebut akan di close oleh Service Desk. Namun, apabila user belum mendapatkan hasil yang diinginkan, Service Desk akan mengirimkan kembali sebelumnya kepada Support Group. Pada bagian ini support group hanya dapat mengembalikan tiket yang telah diterima kepada Service Desk. Apabila masalah tersebut tidak dapat diselesaikan, group dapat melanjutkan insiden ini kepada Management Support; (4) Management Support hanya mendapatkan tiket insiden dari Support Group dimana sebuah insiden tidak dapat diselesaikan oleh Support Group dan membutuhkan penanganan dari pihak manajemen. 



Kebijakan



               Kebijakan-kebijakan yang digunakan pada penanganan insiden masih tergolong lemah karena tidak memiliki denda ataupun penalti yang dikeluarkan sehingga kesadaran untuk menangani suatu insiden masih tergolong rendah. Maka dari itu, masih terdapat adanya respon-respon terhadap insiden yang melebihi SLA yang merupakan salah satu acuan untuk melakukan penilaian terhadap kinerja Service Desk. Perbaikan pada kendala ini perlu ditinjau ulang kembali oleh pihak manajemen terhadap kebijakan-kebijakan yang ada. Policies ataupun kebijakan yang telah ada ini perlu ditambahkan sebuah penalti ataupun denda, dengan adanya denda ataupun penalti tersebut bertujuan agar insiden yang ada memiliki tanggung jawab untuk harus direspon dengan baik dari semua segi prioritasnya. Dari perbaikan pada kendala ini diharapkan insiden yang melebihi SLA dapat dikurangi ataupun ditiadakan, sehingga kinerja pada Service Desk dapat ditingkatkan.



Manusia



Kendala pada manusia ini disebabkan karenanya terbatasnya para staff Service Desk terhadap pengetahuan tentang IT, yang mengakibatkan kurangnya penyelesaian awal terhadap insiden yang langsung dapat diselesaikan, sehingga tujuan untuk meminimalkan akibat dapat dilakukan. Rekomendasi perbaikan ini adalah perlu dilakukannya pelatihan-pelatihan kepada staf Service Desk terhadap pengetahuan dasar aplikasi maupun perangkat-perangkat IT yang ada, dan untuk perekrutan staff yang baru dapat ditinjau kembali terlebih dahulu terhadap pengetahuan tentang IT dan penyelesaian suatu masalah tentang permasalahan IT. Dari tujuan rekomendasi tersebut diharapkan agar insiden yang dapat langsung diselesaikan dapat meningkat, sehingga dapat meminimalkan akibat dan mengembalikan operasional kerja secepat mungkin.



Teknologi



Sistem aplikasi Service Desk yang dimiliki oleh PT. Matahari Putra Prima masih jauh dari standarisasi ITSM, sehingga ada fungsi-fungsi yang tidak dimiliki oleh sistem aplikasi tersebut yang dapat membantu proses penanganan insiden dan proses control terhadap insiden dan kinerja para staff

Service Desk PT. Matahari Putra Prima. Untuk perbaikan pada kendala ini penulis menyarankan untuk menggunakan software Service Desk yang berbasis ITSM. Tujuannya agar dapat terciptanya suatu standarisasi yang mengacu kepada standarisasi internasional, dan berguna bagi perusahaan dalam meningkatkan kualitas services IT. Sebagai contoh software ITSM yang direkomendasikan, maka penulis menggunakan simulasi aplikasi yang berbasis ITSM yaitu menggunakan Octopus versi 3.0.10. Keseluruhan hasil analisis terangkum pada Gambar 2.


Tahap Improve 



Dari hasil Fishbone Diagram pada proses sebelumnya terlihat masih terdapat kendala-kendala yang menyebabkan terjadinya permasalahan pada Service Desk PT. Matahari Putra Prima. Permasalahan-permasalahan tersebut terjadi karena beberapa kendala-kendala yang berasal dari proses, kebijakan, manusia, dan teknologi. Dengan adanya hal tersebut maka perlu adanya perbaikan pada masing-masing kendala-kendala.



Tahap Control 



Pada tahap ini dilakukan monitoring atau pemantauan terhadap hal apa saja yang telah dilakukan dan terlaksana, tujuannya agar perbaikan dapat terus ditingkatkan dan dikembangkan. Penulis masih menggunakan simulasi software Octopus karena terbatasnya waktu penelitian. Disamping itu , penggunaan software  Octopus merupakan sebagai contoh penerapan Best Practice ITSM yang telah memiliki fitur-fitur yang sudah dicocokkan terhadap framework yang ada pada ITIL. 



Tahap Evaluasi



Pada proses akhir ini akan dilakukan evaluasi terhadap sistem yang berjalan dengan sistem yang baru adapun tujuan evaluasi ini untuk mengetahui perbandingan antara sistem yang berjalan dengan sistem yang direkomendasikan yaitu sistem yang baru. Selain membandingkan akan dilakukan

Penerapan Best Practice… (Hendra)                                                                                                 523

pengujian terhadap sistem yang baru. Dan dari hasil perbandingan dan pengujian tersebut dapat sebagai acuan untuk dilakukannya perbaikan-perbaikan yang lebih baik dan lebih terarah kepada ITSM. 



Evaluasi Aplikasi



Adapun perbandingan yang akan dilakukan pada awalnya berdasarkan kebutuhan terhadap fungsi-fungsi aplikasi yang sedang berjalan dengan aplikasi yang telah direkomendasikan, dan yang disesuaikan dengan standar ITSM. Aplikasi Service Desk yang dimiliki oleh PT. Matahari Putra Prima masih banyak kekurangan dari sistem yang berstandar ITSM. Fungsi-fungsi seperti pembeda antara service request dengan insiden, take assignment untuk mengambil tugas yang sedang dalam proses, suspend untuk  informasi penundaan dari user, cancel insiden, re-open insiden terhadap kasus yang sama, dimana fungsi semua itu tidak dimiliki oleh aplikasi MHS. Dan begitu pula untuk mengenai laporan yang terdapat pada MHS, laporan-laporan yang tidak dimiliki oleh MHS meliputi laporan mengenai SLA, KPI, service request, dan problem manajemen. Fungsi laporan tersebut dapat berguna sebagai alat bantu untuk evaluasi bagi manajemen dan  sebagai alat control dan tolak ukur untuk mengetahui kinerja dari penanganan terhadap insiden yang pernah terjadi. Dengan kurangnya fungsi laporan-laporan yang ada pada MHS, maka sangat sulit untuk mengontrol dan memantau kinerja para staff Service Desk dan insiden yang pernah terjadi.



Evaluasi Proses Kerja



Proses kerja yang lama belum mengacu pada ITSM, sedangkan proses kerja yang baru telah berlandaskan dengan Best Practice ITSM. Dan berikut ini gambaran perbandingan proses kerja yang lama dengan baru. Dari perbandingan prosedur sebelumnya dengan prosedur yang direkomendasikan adanya beberapa pengurangan proses-proses yang tidak sesuai dengan Best Practice ITSM. Pada proses kerja sebelumnya setelah pengguna membuat laporan insiden, pengguna harus memilih untuk kemana laporan insiden tersebut diberikan apakah kepada Service Desk ataupun kepada manager IT. Sedangkan pada proses kerja yang rekomendasikan, pilihan tersebut dihilangkan karena dengan adanya pilihan tersebut maka fungsi sebagai Service Desk akan terjadi tumpang tindih dan menyalahkan standarisasi dari framework ITIL, dimana Service Desk merupakan kontak utama terhadap laporan insiden yang berasal dari pengguna.

Dengan adanya penghilangan proses pada proses kerja sebelumnya, dapat mempercepat suatu proses penanganan terhadap insiden. Apabila laporan insiden tersebut diberikan kepada pihak manager IT terlebih dahulu, ada kemungkinan penugasan terhadap insiden tersebut akan mengalami terhambat, karena adanya kesibukan dari pihak manager terhadap tugas-tugas ataupun pertemuan yang harus dilakukan terlebih dahulu, sehingga akan memperlambat penanganan insiden yang dilaporkan. Selain dapat mempercepat proses penanganan insiden, hal tersebut  dapat menghilangkan kesalahan di dalam penugasan, karena biasanya pihak manager IT memiliki sedikit waktu untuk melakukan analisis terhadap insiden yang dilaporkan, sehingga kesalahan penugasan dapat terjadi. Dengan mengembalikan fungsi tersebut kepada Service Desk, proses analisis dapat dilakukan dengan teliti, sehingga kesalahan penugasan kepada grup selanjutnya dapat dikurangi dan dapat meringankan beban tugas manajemen, agar tugas manajemen dapat lebih berfokus di dalam menjalankan dan merencanakan strategi-strategi perusahaan.



Evaluasi Time Estimation



Dari perbandingan proses kerja sebelumnya dapat terlihat perbandingan antara proses kerja yang lama dengan yang direkomendasikan. Tetapi dalam melakukan suatu perubahan suatu sistem ada banyak hal yang harus dipertimbangkan, terutama dari waktu proses tersebut. Untuk dapat membandingkan estimasi waktu, diperlukan perbandingan estimasi waktu dari proses kerja yang lama dengan yang baru.

Pada proses kerja lama rata-rata pengguna membuat laporan sampai mengirimkan laporan tersebut selama tujuh menit. Apabila laporan tersebut diterima dan dicatat oleh Service Desk rata-rata waktu yang dikerjakan selama empat menit, Service Desk mengidentifikasi dan menganalisis laporan rata-rata selama sepuluh menit, kemudian Service Desk mencari solusi dan mengerjakan resolusi rata-rata selama 12 menit dan tujuh menit. Apabila Service Desk tidak dapat menselesaikannya akan dikirimkan perintah kerja kepada Support Group yang bersangkutan dan mengirimkan umpan balik kepada pengguna bahwa laporan tersebut sedang dikerjakan oleh bagian lain sebagai response kepada pengguna yang rata-rata memakan waktu empat menit. Apabila laporan tersebut diterima oleh Manager IT, rata-rata laporan yang sampai kepada email-nya selama dua menit dan rata-rata waktu identifikasi dan analisis laporan selama satu jam 46 menit.

Lama waktu tersebut disebabkan oleh adanya kesibukan dari pihak manager terhadap tugas-tugas ataupun pertemuan yang harus dilakukan terlebih dahulu sehingga menghambat waktu response terhadap laporan tersebut. Apabila laporan tersebut tidak dapat diselesaikan, akan dikirimkan perintah kerja kepada Support Group yang bersangkutan dan mengirimkan umpan balik kepada pengguna bahwa laporan tersebut sedang dikerjakan oleh bagian lain sebagai response kepada user yang rata-rata memakan waktu empat menit. Apabila dapat diselesaikan, laporan tersebut akan dikirimkan kepada Service Desk dan rata-rata waktu melakukan umpan balik kepada pengguna untuk dilakukan penutupan atau penyelesaian laporan tersebut selama tiga menit.



Dari proses kerja yang baru tidak ada perbedaan estimasi waktu terhadap proses kerja yang lama. Tetapi pada proses kerja baru adanya pengurangan proses-proses yang tidak sesuai dengan standar Best Practice ITSM. Pada proses kerja sebelumnya, setelah pengguna membuat laporan insiden, pengguna harus memilih untuk ke mana laporan insiden tersebut diberikan apakah kepada Service Desk ataupun kepada Manager IT. Sedangkan pada proses kerja baru, pilihan tersebut dihilangkan. Dan total estimasi waktu response kepada pengguna apabila melalui Service Desk ratarata selama 30 menit bila kasus tersebut tidak dapat diselesaikan. Apabila kasus tersebut dapat diselesaikan, rata-rata waktu response selama 36 menit. Sedangkan apabila laporan insiden tersebut melalui Manager IT, rata-rata waktu response kepada pengguna 2 jam 2 menit untuk insiden yang tidak dapat diselesaikan, dan satu jam 48 menit untuk insiden dapat diselesaikan.



Evaluasi Akhir



Dari perbandingan waktu terlihat bahwa dengan proses kerja yang baru, waktu response time yang melebihi SLA dapat dikurangi. Lamanya waktu response time yang terjadi sebelumnya karena tiket yang dikirimkan melalui Management Support terkadang mengalami penundaan waktu yang lama. Penundaan tersebut disebabkan oleh kesibukan para management untuk menugaskan atau mengirimkan tiket kepada Support Group ataupun team yang sesuai dengan permasalahan

Jadi pada intinya ITSM membantu mengurangi proses-proses yang tidak sesuai dengan standar. Penerapan Best Practice IT Service Management yang telah mengacu pada framework ITIL dapat membantu memperbaiki permasalahan yang ada pada Service Desk PT. Matahari Putra Prima. Dengan melakukan perubahan proses kerja yang disesuaikan dengan Best Practice ITSM dan menyesuaikan aplikasi Service Desk yang selama ini digunakan dengan aplikasi berbasis ITSM, peningkatan dan perbaikan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar