Setelah tiga tahun yang lalu kita diramaikan dengan fenomena K-Pop di
Tanah Air, kini masyarakat kita pun terpana oleh pop kultur asal India.
Demam India terjadi di Tanah Air dan dialami oleh semua lapisan
kalangan usia, status sosial, dan demografis (urban-rural). Setelah
sukses tayang Mahabrata pada Maret lalu di ANTV, kini hampir semua
stasiun televisi memiliki tayangan film serial India, seperti Naagin di
MNC TV, Aladin di Trans TV, Mahadewa, The Adventures of Hatimdan Jodha
Akbar di ANTV.
Bintang bintang film India pun jadi idola baru
seperti Shaheer Sheikh, Rohit Bhardwaj, Saurav Gurjar, Vin Rana, Lavanya
Bhardwaj, Aham Sharma, dan Arpit Ranka. Melihat fenomena demam India
ini, saya bertanya-tanya ada apa dengan masyarakat kita? Mengapa mereka
menyukai filmfilm India? Saya melihat munculnya fenomena ini tidak lepas
dari preferensi hiburan konsumen kelas menengah.
Dengan
tingkat pengetahuan dan koneksi sosial yang semakin luas, konsumsi
hiburan (entertainment) mereka semakin mengglobal dan modern.
BoomingK-Pop adalah fenomena gaya hiburan muda. Tak jauh beda,
demam India pun digandrungi di berbagai kalangan usia, tapi
lebih banyak perempuan muda
Bagaimana Cara Menyikapinya :
Dalam fenomena ini lebih baik kita menaggapinya dengan cara selektif. Artinya perubahan yang membawa dampak positif bagi kita nilai-nilainya di masyarakat akan diterima, dan begitu juga sebaliknya, perubahan yang menimbulkan rusaknya norma-norma sosial ditolak keberadaannya.
Sumber : http://ekbis.sindonews.com/read/927906/150/demam-india-1416716100
Kamis, 26 Mei 2016
Tonggak-tonggak Berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia
Tonggak Pertama
Tonggak sejarah pertama yang
diangkat oleh bangsa Indonesia dalam rangka mewujudkan suatu Negara-bangsa
modern yang adil dan makmur adalah tahun 1908, tepatnya tanggal 20 Mei 1908,
yakni kelahiran suatu organisasi kemasyarakatan yang diberi nama Boedi Oetomo.
Tahun itu disebut oleh bangsa Indonesia sebagai tahun kebangkitan nasional bangsa Indonesia.
Berdirinya organisasi Boedi Oetomo mendorong atau memicu lahirnya berbagai
organisasi pemuda seperti Tri Koro Dharmo yang kemudian berkembang menjadi Jong Java, yang diikuti
oleh lahirnya organisasi pemuda-pemuda dari luar Jawa seperti Jong Soematranen Bond, Jong
Minahasa, Jong Ambon, Jong Celebes dan sebagainya.
Organisasi-organisasi pemuda tersebut tidak berorientasi politik praktis secara
nyata, meskipun tujuannya tiada lain adalah berdirinya suatu Negara Indonesia
Merdeka. Di samping organisasi pemuda yang besifat nasional, terdapat juga
organisasi pemuda yang berorientasi keagamaan, yakni Jong Islamieten Bond yang lebih berorientasi
pada politik praktis. Organisasi-organisasi pemuda tersebut yang pada tahun
1928 bersatu padu mendeklarasikan ”Sumpah Pemuda.”
Tonggak Kedua
Sumpah Pemuda adalah satu
tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia. Ikrar ini
dianggap sebagai kristalisasi semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya
negara Indonesia. Yang dimaksud dengan "Sumpah Pemuda" adalah
keputusan Kongres Pemuda Kedua yang diselenggarakan dua hari, 27-28 Oktober
1928 di Batavia (Jakarta). Keputusan ini menegaskan cita-cita akan ada
"tanah air Indonesia", "bangsa Indonesia", dan "bahasa
Indonesia". Keputusan ini juga diharapkan menjadi asas bagi setiap
"perkumpulan kebangsaan Indonesia" dan agar "disiarkan dalam
segala surat kabar dan dibacakan di muka rapat perkumpulan-perkumpulan".
SOEMPAH PEMOEDA
Pertama :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA
MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE,
TANAH AIR INDONESIA
Kedua :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA,
MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA
INDONESIA
Ketiga :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA
MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA
INDONESIA
Djakarta, 28 Oktober 1928
Sebelum pembacaan teks Soempah Pemoeda
diperdengarkan lagu"Indonesia Raya" gubahan W.R. Soepratman dengan
gesekan biolanya.
Teks Sumpah Pemuda dibacakan pada tanggal 28
Oktober 1928 bertempat
di Jalan Kramat Raya nomor 106 Jakarta Pusat sekarang menjadi Museum Sumpah
Pemuda, pada waktu itu adalah milik dari seorang Tionghoa yang bernama Sie
Kong Liong.
di Jalan Kramat Raya nomor 106 Jakarta Pusat sekarang menjadi Museum Sumpah
Pemuda, pada waktu itu adalah milik dari seorang Tionghoa yang bernama Sie
Kong Liong.
Golongan Timur Asing Tionghoa yang turut hadir
sebagai peninjau
Kongres Pemuda pada waktu pembacaan teks Sumpah Pemuda ada 4 (empat) orang
yaitu :
Kongres Pemuda pada waktu pembacaan teks Sumpah Pemuda ada 4 (empat) orang
yaitu :
1.
Kwee Thiam Hong
2.
Oey Kay Siang
3.
John Lauw Tjoan Hok
4.
Tjio Djien kwie
Sumpah Pemuda merupakan
bukti otentik bahwa pada tanggal 28 Oktober 1928 Bangsa Indonesia dilahirkan,
oleh karena itu seharusnya seluruh rakyat Indonesia memperingati momentum 28
Oktober sebagai hari lahirnya bangsa Indonesia, proses kelahiran Bangsa
Indonesia ini merupakan buah dari perjuangan rakyat yang selama ratusan tahun
tertindas dibawah kekuasaan kaum kolonialis pada saat itu, kondisi
ketertindasan inilah yang kemudian mendorong para pemuda pada saat itu untuk
membulatkan tekad demi mengangkat harkat dan martabat hidup orang Indonesia
asli, tekad inilah yang menjadi komitmen perjuangan rakyat Indonesia hingga
berhasil mencapai kemerdekaannya 17 tahun kemudian yaitu pada 17 Agustus 1945.
Rumusan Sumpah Pemuda di tulis Moehamad Yamin
pada sebuah kertas ketika Mr. Sunario, sebagai utusan kepanduan tengah
berpidato pada sesi terakhir kongres. Sumpah tersebut awalnya dibacakan oleh
Soegondo dan kemudian dijelaskan panjang lebar oleh MOH. Yamin.
Sumpah Pemuda merupakan tonggak sejarah yang
penting bagi berdirinya NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) Karena sumpah
pemuda merupakan awal mula terbentuknya organisasi-organisasi bersifat
nasionalisme, yang pada awalnya lebih cenderung bersifat kedaerahan. Dan sumpah
pemuda juga merupakan pembuktian bahwa kita semua adalah satu, satu bangsa,
satu tanah air dan satu bahasa. Oleh karena itu bahasa Indonesia digunakan
sebagai bahasa pemersatu bangsa yang tetap digunakan hingga saat ini.
Kesimpulannya, kenapa sumpah pemuda begitu penting hal ini dikarenakan
sumpah pemuda merupakan tolak ukur terbentuknya rasa persatuan dan
kesatuan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Tonggak Ketiga
Pidato Bung Karno tanggal 1
Juni 1945, di depan Sidang BPUPKI.” Bung Karno pada waktu itu mengusulkan
dasar negara bagi negara yang akan didirikan, yang beliau sebut Pancasila. Dan
setelah melalui perdebatan dan musyawarah yang cukup intens, akhirnya dengan
beberapa perubahan, rumusan Pancasila diterima sebagai dasar negara dan
dicantumkan dalam Pembukaan UUD, meski tidak dengan menyebut kata Pacasila.
Bangsa Indonesia dalam menyelenggarakan pemerintahan telah mengalami beberapa
kali perubaan UUD, namun demikian rumusan Pancasila selalu terdapat dalam
Pembukaan atau Mukaddimah UUD yang bersangkutan.
Sementara itu pada masa pemerintahan Presden
Sokarno dan pemerintahan Presiden Soeharto diupayakan untuk mengimplementasikan
Pancasila secara nyata dalam kehidupan bermasyarakat, bebangsa dan bernegara.
Pancasila disamping sebagai dasar negara, didudukkan pula sebagai ideologi
nasional dan pandangan hidup rakyat Indonesia. Dengan demikian kedudukan
Pancasila sangat sentral bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara
bagi bangsa Indonesia.
Tonggak Keempat
Tonggak sejarah keempat adalah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
pada tanggal 17 Agustus 1945, suatu peristiwa yang maha penting bagi kehidupan
suatu negara-bangsa. Sejak sa’at itu bangsa Indonesia menjadi bangsa yang
merdeka, suatu kemerdekaan yang dicapai dengan perjuangan putra-putri bangsa,
bukan suatu pemberian dari bangsa atau negara lain. Bung Karno menyebutnya
kemerdekaan ini sebagai jembatan emas, di seberang jembatan ini bangsa
Indonesia membangun bangsanya menjadi bangsa yang serba kecukupun, orang
Inggris menyebutnya sebagai afluent
society. Ternyata proklamasi saja tidaklah cukup, karena berdirinya
suatu negara harus mendapat pengakuan dari dunia internasional.
Tonggak Kelima
Proklamasi kemerdekaan Indonesia
ini tidak dapat diterima oleh Belanda yang ingin menguasai kembali negara jajahannya
setelah usainya perang Asia Timur Raya. Dengan mengerahkan kekuatan militernya
pemerintah Belanda berusaha menguasai kembali wilayah demi wilayah Negara
Republik Indonesia. Pada tanggal 19 Desember 1948 Yogyakarta, yang menjadi
pusat pemerintahan Negara Republik Indonesia diserbu, Presiden Soekarno dan
Wakil Presiden Moh. Hatta ditahan oleh Belanda. Tentara Nasional Indonesia
menyisih ke luar kota untuk menyusun kekuatan kembali dalam rangka merebut
kembali wilayah yang dikuasai Belanda.
Pada tanggal 1 Maret 1949
terjadilah Serangan Umum di kota Yogyakarta, yang berdampak terbukanya mata
dunia, bahwa Indonesia masih ada, dan memiliki tentara yang terkoordinir,
sehingga dapat menguasai kota Yogyakarta, meski hanya untuk beberapa jam saja.
Peristiwa ini mendukung berlangsungnya diplomasi antara pemerintah Belanda dan
wakil pemerintah Indonesia untuk mengakui berdirinya Negara Republik Indonesia.
Pada tanggal 27 Desember 1949 berlangsung pengakuan kedaulatan Negara Republik
Indonesia dalam bentuk Negara Indonesia Serikat. Obessi para pejuang untuk
mendirikan negara kesatuan tidak kunjung padam, ternyata Negara Indonesia
Serikat tidak berumur lebih dari satu tahun. Pada tanggal 15 Agustus 1950
Presiden Soekarno membacakan Piagam terbentuknya Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
Langganan:
Postingan (Atom)